Pada tahun 1429 Majapahit dipimpin oleh Ratu Kusuma Kencana Wungu. Beragam keberhasilan dapat diraih. Salah satunya adalah memperluas kekuasaan, termasuk Kerajaan Blambangan di daerah Banyuwangi. Pemimpin Kerajaan Blambangan bernama Kebo Marcuet. Ia sangat sakti dan memiliki dua tanduk di kepala. Kerajaan ini sering melakukan pemberontakan pada Majapahit. Akhirnya, Ratu Kusuma Kencana Wungu membuat sayembara untuk mengalahkan Kebo Marcuet. Pemenangnya akan diangkat sebagai Adipati Kerajaan Blambangan sekaligus menjadi suami sang ratu. Ribuan pemuda mengikuti sayembara itu, termasuk Minak Jinggo. Lalu, terjadilah pertarungan antara Minak Jinggo dan Kebo Marcuet. Kekuatan gada wesi kuning milik Minak Jinggo berhasil mengalahkan Kebo Marcuet. Akan tetapi, sang ratu mengingkari janjinya. Minak Jinggo pun sangat kecewa. Beberapa tahun kemudian, Minak Jinggo menyerang Majapahit. Ratu Kusuma Kencana Wungu kembali mengadakan sayembara. Berbondong-bondong pemuda Majapahit mencoba keberuntungannya, termasuk pemuda penjaga kuda yang tampan dan pemberani bernama Damarwulan. Namun, dia kalah dalam pertarungan melawan Minak Jinggo dan dijebloskan ke penjara. Diam-diam, kedua selir Kerajaan Blambangan bernama Wuhita dan Puyengan membebaskan Damarwulan sekaligus menyerahkan senjata andalan Minak Jinggo. Dengan gada wesi kuning, Damarwulan berhasil mengalahkan Minak Jinggo. Damarwulan kemudian kembali ke Majapahit. Setelah menunjukkan bukti kemenangan, Ratu Kusuma Kencana Wungu menepati janjinya. Damarwulan dijadikan suami sang ratu dan dinobatkan menjadi Raja Majapahit.